TANGSELINFO.COM, TANGSELPEDIA – Ketika menyebut Pondok Aren hari ini, yang terbayang di benak banyak orang mungkin adalah deretan perumahan elit, jalan-jalan padat kendaraan, pusat perbelanjaan, hingga kawasan Bintaro yang berkembang menjadi salah satu kota satelit Jakarta. Sulit membayangkan bahwa sekitar seabad lalu wilayah yang sama memiliki wajah yang sangat berbeda.
Peta-peta era Hindia Belanda menyimpan jejak tentang bagaimana Pondok Aren tumbuh dan bertransformasi. Dalam lembaran peta yang diterbitkan pada 1901 hingga 1934, kawasan ini tampak sebagai bentang agraris yang didominasi hamparan sawah, aliran sungai, dan jaringan pengairan yang menghidupi masyarakat setempat.

Wilayah Pondok Aren Terbentang Hamparan Sawah dan Sungai
Jika diperhatikan lebih seksama, hampir seluruh wilayah yang kini masuk Kecamatan Pondok Aren ditandai dengan pola petak-petak lahan yang menunjukkan area persawahan yang berdampingan dengan permukiman penduduk. Di antara hamparan tersebut mengalir sejumlah sungai kecil dan saluran air yang terhubung satu sama lain. Air menjadi elemen utama pembentuk lanskap Pondok Aren pada masa itu.
Jauh sebelum menjadi kecamatan yang padat penduduk dan penuh dengan infrastruktur modern, wilayah ini adalah ruang hidup masyarakat agraris yang bergantung pada air dan musim tanam.
Nama-nama Kampung di Pondok Aren Warisan Hindia Belanda
Selain soal lanskap, menariknya banyak nama kampung yang tercantum dalam peta era kolonial tersebut masih bertahan hingga hari ini. Jurangmangu, Pondok Aren, Parigi bahkan Situ Parigi, Pondok Kacang, Pondok Jaya, Pondok Betung, Pondok Jati, Pondok Blimbing, Pondok Pucung, Kebantenan atau Bantenan, Tegalrotan bukanlah nama baru yang lahir dari pembangunan kota modern. Nama-nama itu telah hidup sejak setidaknya awal abad ke-20 dan menjadi penanda kesinambungan sejarah ruang yang jarang disadari oleh penghuninya saat ini.
Keberlangsungan nama-nama kampung tersebut menunjukkan bahwa di tengah derasnya urbanisasi, ada lapisan sejarah yang tetap bertahan. Jalan boleh berubah, sawah boleh menghilang, tetapi memori suatu tempat sering kali tetap hidup melalui nama-nama yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Nama Bintaro Sebelum Pengembangan Kawasan
Peta-peta lama itu juga memperlihatkan hal lain yang menarik: Bintaro belum menjadi pusat identitas kawasan sebagaimana sekarang. Nama Bintaro memang sudah muncul, tetapi posisinya hanya sebagai salah satu wilayah di bagian timur kawasan Pondok Aren. Secara geografis, lokasinya lebih dekat ke wilayah yang kini menjadi Jakarta Selatan.
Pada masa itu, Bintaro belum memiliki posisi dominan sebagaimana setelah pembangunan perumahan skala besar pada akhir abad ke-20. Nama Pondok Aren justru lebih merepresentasikan kawasan yang luas dengan sejumlah kampung yang tersebar di antara sawah dan jalur air.
Fenomena ini memperlihatkan bagaimana pembangunan dapat mengubah bukan hanya bentang alam, tetapi juga identitas suatu wilayah. Hari ini banyak orang mengenal Bintaro, sementara Pondok Aren sering kali hanya dianggap sebagai nama kecamatan administratif. Padahal secara historis, Pondok Aren adalah lanskap yang lebih tua dan lebih luas daripada citra Bintaro yang kini melekat kuat di benak publik.
Pondok Aren Adalah Kawasan Air
Melihat Pondok Aren melalui peta era Hindia Belanda juga mengingatkan kita pada satu hal penting: kawasan ini pada dasarnya adalah wilayah air. Sungai-sungai, situ, saluran irigasi, dan hamparan sawah membentuk ekosistem yang saling terhubung. Air bukan sekadar pelengkap lanskap, melainkan fondasi kehidupan masyarakatnya.
Karena itu, ketika banjir, hilangnya sungai, penyempitan saluran air, atau berkurangnya ruang terbuka hijau menjadi persoalan di Tangerang Selatan hari ini, mungkin kita perlu kembali membuka peta-peta lama tersebut. Bukan untuk bernostalgia, melainkan untuk memahami karakter asli wilayah yang sedang kita huni.

Peta kolonial memang disusun untuk melayani kepentingan pemerintahan Hindia Belanda di tanah jajahan. Namun, tanpa disadari para pembuatnya, peta-peta itu kini menjadi arsip yang merekam wajah Pondok Aren sebagai negeri sawah, kali, dan situ yang menopang kehidupan warganya.
Lanskap itu perlahan menghilang di bawah hamparan beton dan deretan perumahan, tetapi jejaknya masih dapat dibaca oleh mereka yang bersedia menengok masa lalu. Ada satire yang sulit diabaikan: dahulu tanah ini dipetakan untuk memudahkan penjajahan, kini peta-peta lama justru mengingatkan kita pada cara-cara baru menaklukkan ruang. Ketika sawah, sungai, dan daerah resapan dikorbankan atas nama pembangunan. Sejarah menunjukkan bahwa penjajahan tidak selalu datang dengan serdadu dan senapan; kadang ia hadir dalam bentuk yang lebih halus, menguasai alam hingga kehilangan daya hidupnya. Sebab, seperti peringatan yang kerap dikutip, mereka yang tidak belajar dari masa lalu, akan dikutuk untuk mengulanginya.
Penulis:
Muhamad Iqbal merupakan seorang jurnalis dan pegiat literasi sejarah kelahiran Bogor yang menyelesaikan pendidikan Sarjana Sastra Indonesia di Universitas Pamulang. Iqbal dapat dihubungi melalui Instagram dan Threads @ikbal.muhmd maupun X @juru_baca.
