TANGSELINFO.COM, TANGSELPEDIA – Jalan Raya Serpong–Parung barangkali hari ini hanya terlihat sebagai ruas padat yang setiap pagi dipenuhi kendaraan hilir mudik dari Bogor menuju Tangerang, atau sebaliknya. Namun jalan itu sesungguhnya lebih tua dibanding sebagian besar bangunan modern yang kini mengepungnya. Ia telah ada jauh sebelum Serpong berubah dari kawasan perkebunan karet menjadi kota modern, sebelum BSD berdiri, bahkan ketika wilayah di selatan Batavia itu masih dicatat sebagai daerah perbatasan menuju Buitenzorg dalam peta-peta kolonial Belanda.
Karena itu, ketika muncul wacana penutupan jalan yang kini melintasi kawasan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), yang dipersoalkan warga bukan semata soal kemacetan atau ketersediaan jalur alternatif. Ada ingatan panjang tentang jalan yang sejak lama menjadi denyut kehidupan masyarakat. Jalan yang dilalui pedagang, petani, buruh, hingga para pendatang yang kemudian membangun kota-kota baru di pinggir Jakarta.
Jalan yang kini menghubungkan wilayah Jawa Barat dan Banten itu, setidaknya dalam pengetahuan saya, telah tercatat dalam peta Residensi Batavia tahun 1855 karya ahli geografi Belanda, Baron Pieter Melvill van Carnbee. Dalam peta tersebut tergambar sebuah jalan utama (voornaamste wegen) beserta jalan-jalan pedesaan (landwegen) di bagian timur Sungai Cisadane.
Keberadaan jalur itu juga dapat ditelusuri melalui nama-nama kampung yang masih bertahan hingga kini, seperti Serpong, Cilenggang, dan Setu. Gambaran tersebut menjadi penanda bahwa kawasan itu telah menjadi lintasan distribusi hasil bumi sejak masa tanam paksa (cultuurstelsel).

Dalam peta yang diterbitkan Topographische Inrichting Batavia tahun 1898, jalan tersebut tergambar semakin jelas. Jalurnya tampak bercabang di wilayah Proempoeng kini dikenal sebagai Prumpung mirip dengan pola jalan yang masih dapat dilihat hari ini.
Penanda lain terlihat dari nama-nama wilayah di Kecamatan Gunung Sindur, Kabupaten Bogor, yang hingga kini tetap digunakan, seperti Tjikarang (Cikarang), Nagrok, dan Prumpung. Nama-nama itu memperlihatkan kesinambungan ruang yang bertahan melintasi zaman.
Jalan tersebut kembali terekam dalam peta tahun 1901 sebagai penghubung kawasan-kawasan perkebunan di utara Buitenzorg dengan Stasiun Kereta Api Serpong yang mulai beroperasi pada 1898. Pada masa itu, jalur darat dan rel kereta menjadi bagian penting dari distribusi hasil perkebunan menuju Batavia.
Eksistensi jalan itu juga muncul dalam laporan harian Bataviaasch Nieuwsblad edisi 27 Oktober 1924. Dalam pemberitaan mengenai lomba uji ketahanan sepeda motor bertajuk Motorsport Betrouwbaarheidsrit Motorwielrijders, para peserta disebut melintasi rute Depok–Parung–Serpong yang digambarkan memiliki kondisi jalan sangat buruk.
“Memang benar ruas jalan Depok–Paroeng–Serpong berada dalam kondisi demikian. Meski untuk bagian jalan itu secara bijak diputuskan tidak dikenakan poin penalti, jalur tersebut menjadi medan yang sempurna untuk menguji kemampuan pengendara sekaligus ketahanan mesin,” tulis Bataviaasch Nieuwsblad kala itu.

Menjelang akhir masa kolonial, jalan tersebut kembali terekam dalam peta tahun 1934. Jalurnya tampak membelah blok-blok perkebunan bertanda G.R.O yang kemungkinan merujuk pada istilah Gouvernance Rubber Ondernemings atau perkebunan karet milik pemerintah kolonial. Kawasan itu membentang dari sekitar Prumpung hingga wilayah yang kini menjadi BSD City.
Menariknya, kawasan yang sekarang menjadi kompleks BRIN tampaknya juga dahulu merupakan bagian dari hamparan perkebunan karet tersebut. Jejaknya masih samar terlihat hingga kini, melalui deretan pohon sawit di sepanjang jalan komoditas yang menggantikan karet pada masa setelah kemerdekaan.
Pada akhirnya, Jalan Raya Serpong–Parung bukan sekadar jalur penghubung antara Bogor dan Tangerang Selatan. Ia adalah ruang sejarah yang hidup jalan yang telah melewati masa tanam paksa, era perkebunan karet kolonial, pembangunan jalur kereta, hingga ledakan urbanisasi Jakarta modern. Jalan itu telah menyaksikan perubahan zaman, pergantian kekuasaan, dan bergantinya wajah wilayah selatan Batavia menjadi kota metropolitan yang padat hari ini.
Karena itu, perdebatan mengenai masa depan jalan tersebut semestinya tidak hanya dipandang dari sudut administrasi aset atau kebutuhan pembangunan semata. Ada dimensi sejarah dan ingatan kolektif yang melekat di sana. Sebab sebuah kota yang baik bukan hanya dibangun dari beton dan proyek-proyek baru, tetapi juga dari kemampuannya merawat jejak masa lalu.
Mungkin itu pelajaran paling penting dari Jalan Raya Serpong–Parung: bahwa jalan bukan hanya tentang kendaraan yang melintas di atasnya, melainkan tentang manusia, cerita, dan sejarah panjang yang ikut berjalan bersamanya.
Tentang Penulis:
Muhamad Iqbal merupakan seorang jurnalis dan pegiat literasi sejarah kelahiran Bogor yang menyelesaikan pendidikan Sarjana Sastra Indonesia di Universitas Pamulang. Iqbal dapat dihubungi melalui Instagram dan Threads @ikbal.muhmd maupun X @juru_baca.
