Hot News
Jejak Korupsi Pejabat di Ciputat pada Era Hindia Belanda
Pemkot Tangsel dan OJK Banten Perkuat Edukasi Keuangan Keluarga
Kabag Kesra Pemkot Tangsel Akui Gunakan Jalan dan Tembok SMAN 5 Kota Tangsel untuk Parkir Mobil Dinas
Bukan Hasil AI! Ini Makna Logo dan Maskot Porprov Banten ke-VII 2026 di Tangsel
Serunya Siswa TK Durrotul Hikmah Panen Raya di KWT Good Farm Binaan IKPP Tangerang
tangselinfo.com
  • News
  • Info Tangsel
  • Pemerintahan
  • Pendidikan
  • TangselPedia
Sign In
Font ResizerAa
tangselinfo.comtangselinfo.com
  • News
  • Info Tangsel
  • Pemerintahan
  • Pendidikan
  • TangselPedia
Search
  • News
  • Info Tangsel
  • Pemerintahan
  • Pendidikan
  • TangselPedia
banner
Create an Amazing Newspaper
Discover thousands of options, easy to customize layouts, one-click to import demo and much more.
Learn More

Stay Updated

Get the latest headlines, discounts for the military community, and guides to maximizing your benefits
Subscribe

Explore

  • Photo of The Day
  • Opinion
  • Today's Epaper
  • Trending News
  • Weekly Newsletter
  • Special Deals
Masuk ke akunmu Sign In
Made by ThemeRuby using the Foxiz theme Powered by WordPress

Jejak Korupsi Pejabat di Ciputat pada Era Hindia Belanda

Redaksi Redaksi 17 Mei 2026 5 Min Read
Share
Jejak Korupsi Pejabat di Ciputat pada Era Hindia Belanda
Foto berjudul Officiële bijeenkomst met vermoedelijk een Indonesische regent of wedana in Nederlands-Indië circa 1930 (Koleksi digital Universitas Leiden)
SHARE

TANGSELINFO.COM – Praktik penggelapan uang rakyat dan penyalahgunaan wewenang oleh pejabat ternyata bukan cerita baru. Di wilayah Ciputat, yang kini menjadi bagian dari Kota Tangerang Selatan (Tangsel), perilaku korup pejabat pernah menjadi perhatian publik pada era kolonial Hindia Belanda.

Sejumlah arsip surat kabar masa Hindia Belanda mencatat kasus dugaan korupsi yang melibatkan seorang asisten wedana atau pejabat setingkat camat di Ciputat pada 1932 silam.

Kasus itu pertama kali muncul dalam pemberitaan harian Soerabaijasch Handelsblad edisi 16 November 1932. Dalam laporan tersebut, asisten wedana Ciputat disebut diberhentikan dari jabatannya karena terbukti melakukan tindakan penipuan atau fraud.

“De assistent-wedana van Tjipoetat is sedert kort uit zijn betrekking ontslagen, wijl gebleken is, dat hij zich heeft schuldig gemaakt aan frauduleuze handelingen (Asisten Wedana Ciputat baru-baru ini diberhentikan dari jabatannya karena terbukti melakukan tindakan penipuan),” tulis Soerabaijasch Handelsblad dalam laporannya.

Media berbahasa Belanda itu menulis, pejabat tersebut diduga menggelapkan sekitar 100 gulden uang pajak dan 200 gulden uang desa. Pada masa itu, nilai tersebut tergolong besar untuk ukuran administrasi pemerintahan lokal.

Perilaku lancung itu kemudian menjadi sorotan publik hingga ke Sumatra. Harian De Sumatra Post edisi 21 November 1932 turut memberitakan kasus tersebut dalam artikel berjudul Asisten Wedana yang Tidak Jujur. Dalam laporannya disebutkan ditemukan kekurangan dana di kas mantan asisten wedana Ciputat setelah yang bersangkutan dimutasi.

Pejabat tersebut diduga melakukan penyelewengan terhadap setoran para kepala desa dan uang pengembalian yang seharusnya masuk ke kas pemerintahan. Bahkan, media itu menulis bahwa sang pejabat telah mengakui uang tersebut ditarik secara tidak sah dari kas.

“De betrokkene, die thans geschorst is fraudeerde met de stortingen der dessa hoofden en terug gestorte gelden. Hij heeft in zoo ver bekend dat deze gelden onrechtmatig aan de kas onttrokken zijn (Orang yang bersangkutan, yang saat ini diberhentikan sementara, melakukan penipuan terhadap setoran para kepala desa dan uang pengembalian. Ia mengakui bahwa uang tersebut telah ditarik secara tidak sah dari kas),” tulis De Sumatra Post.

Detail lebih lengkap muncul dalam laporan Het Nieuws van den Dag voor Nederlandsch-Indië edisi 22 November 1932, salah satu surat kabar ternama pada masanya. Media itu mengungkap bahwa pejabat bernama Toha, yang menjabat sebagai asisten wedana Ciputat, dipindahkan ke Keresidenan Cirebon pada bulan sebelumnya.

Posisinya kemudian digantikan Abdul Kadir, seorang mantri polisi dari Meester Cornelis, yang kini dikenal sebagai wilayah Jatinegara di Jakarta Timur.

Saat serah terima jabatan, seluruh administrasi disebut dalam kondisi baik. Bahkan, berita acara resmi ditandatangani kedua pejabat tersebut sebagai tanda persetujuan.

Namun persoalan mulai muncul ketika pejabat baru diminta mengejar tunggakan pajak warga. Dalam data administrasi, banyak warga masih tercatat memiliki tunggakan pajak.

Jejak Korupsi Pejabat di Ciputat pada Era Hindia Belanda
Foto berjudul Sawah met landbouwer en toeziende Hollanders (koleksi Rijksmuseum)

Akan tetapi, saat dilakukan penagihan ulang, warga mengaku telah membayar pajak mereka. Sebagian menyebut pembayaran dilakukan melalui kepala lingkungan, sementara lainnya mengaku menyerahkan langsung kepada asisten wedana sebelumnya.

“De nieuwe assistent-wedana kreeg de speciale opdracht om den achterstand in de belastingen zoo spoedig en zooveel mogelijk in te halen. In de registers stonden nog vele ingezetenen van het onderdistrict als belastingschuldig genoteerd, doch toen de assistent-wedana hen tot betaling aanmaande, verklaarden zij reeds betaald te hebben, óf aan hun wijkmeester, óf rechtstreeks aan den vorigen assistent-wedana (Asisten wedana yang baru mendapat tugas khusus untuk mengejar tunggakan pajak secepat dan sebanyak mungkin. Dalam daftar register, masih banyak warga di subdistrik tersebut tercatat memiliki utang pajak. Namun, ketika ditagih, warga menyatakan telah membayar, baik melalui kepala lingkungan maupun langsung kepada asisten wedana sebelumnya),” tulis Het Nieuws van den Dag voor Nederlandsch-Indië.

Dari situlah penyelidikan dilakukan lebih mendalam. Hasilnya, aparat kolonial menduga telah terjadi penggelapan dana pajak oleh pejabat lama tersebut.

Pejabat yang telah dimutasi itu kemudian dipanggil kembali untuk diperiksa dan ditempatkan di bawah pengawasan polisi selama proses penyelidikan berlangsung.

Jumlah dana yang diduga digelapkan pun membengkak. Jika awalnya hanya ratusan gulden, hasil penyelidikan sementara menyebut total kerugian mencapai sekitar 1.000 gulden.

TAGGED:info tangselJejak Korupsi Pejabat di CiputatKorupsi di TangselTangselpedia
Share This Article
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link

Terkini

Pemkot Tangsel
Pemkot Tangsel dan OJK Banten Perkuat Edukasi Keuangan Keluarga
Pemerintahan
Kabag Kesra Pemkot Tangsel Rizqiyah
Kabag Kesra Pemkot Tangsel Akui Gunakan Jalan dan Tembok SMAN 5 Kota Tangsel untuk Parkir Mobil Dinas
News
Porprov Banten 2026 di Kota Tangsel
Bukan Hasil AI! Ini Makna Logo dan Maskot Porprov Banten ke-VII 2026 di Tangsel
Info Tangsel
Serunya Siswa TK Durrotul Hikmah Panen Raya di KWT Good Farm Binaan IKPP Tangerang
Serunya Siswa TK Durrotul Hikmah Panen Raya di KWT Good Farm Binaan IKPP Tangerang
Pendidikan
- Advertisement -
Ad imageAd image

You Might Also Like

Alun-alun Pondok Aren

Alun-alun Pondok Aren Jadi Ruang Rekreasi Favorit Warga

Info Tangsel
Bapenda Kota Tangsel

Bapenda Kota Tangsel Klaim Pendapatan Pajak Daerah Capai 70 Persen

Pemerintahan
Influencer Paphricia

Difitnah, Influencer Paphricia Laporkan 3 Temannya ke Polres Tangsel

News
Perseroda PITS

Benyamin Minta Komisaris dan Direksi Perseroda PITS Harus Profesional

News
tangselinfo.com

© 2025 Info Tangsel. All rights reserved. Designed by ❤ dezainin.com

Kanal

  • News
  • Pemerintahan
  • Pendidikan
  • Info Tangsel
  • TangselPedia

Redaksi

  • Tentang Kami
  • Iklan
  • Kebijakan Privasi
  • Syarat & Ketentuan

Must Read

Jejak Korupsi Pejabat di Ciputat pada Era Hindia Belanda
Dikbud Kota Tangsel Bakal Perbaiki 5 Bangunan SDN dan SMPN

Informasi yang disajikan berpedoman pada Kode Etik Jurnalistik, mencakup informasi Peristiwa, Info Tangsel, Pemerintahan, dan Pendidikan.

Selamat Datang!

Masuk ke akunmu sekarang