Hot News
Mekanisme Sewa Mobil Dinas Pemkot Tangsel Hemat hingga Rp8 Miliar
Membaca Ulang Ruang Serpong yang Tertinggal dari Peta Kolonial
Pemkot Tangsel Fasilitasi Internet Gratis di 379 Masjid, Perkuat Peran Masjid Pusat Edukasi
Dinkes Kota Tangsel Optimalkan 6 Pos Lansia untuk Tingkatkan Kualitas dan Derajat Kesehatan Lansia
Update Program Bedah Rumah Pemkot Tangsel Tahap 1, 186 Unit Rumah Rampung Diperbaiki
tangselinfo.com
  • News
  • Info Tangsel
  • Pemerintahan
  • Pendidikan
  • TangselPedia
Sign In
Font ResizerAa
tangselinfo.comtangselinfo.com
  • News
  • Info Tangsel
  • Pemerintahan
  • Pendidikan
  • TangselPedia
Search
  • News
  • Info Tangsel
  • Pemerintahan
  • Pendidikan
  • TangselPedia
banner
Create an Amazing Newspaper
Discover thousands of options, easy to customize layouts, one-click to import demo and much more.
Learn More

Stay Updated

Get the latest headlines, discounts for the military community, and guides to maximizing your benefits
Subscribe

Explore

  • Photo of The Day
  • Opinion
  • Today's Epaper
  • Trending News
  • Weekly Newsletter
  • Special Deals
Masuk ke akunmu Sign In
Made by ThemeRuby using the Foxiz theme Powered by WordPress

Membaca Ulang Ruang Serpong yang Tertinggal dari Peta Kolonial

Redaksi Redaksi 11 Juli 2026 5 Min Read
Share
Kecamatan Serpong Kota Tangsel
Ilustrasi wilayah Kecamatan Serpong, Kota Tangsel. Ilustrasi: Gemini AI
SHARE

TANGSELINFO.COM – Jika sebelumnya kita membahas wilayah selatan Serpong, tepatnya Jalan Serpong–Parung sebagai jalur tua yang berkaitan dengan masa tanam paksa hingga berkembang menjadi jalur penghubung menuju Stasiun Serpong pada akhir abad ke-19 kali ini perhatian diarahkan ke sisi utara Serpong. Serpong yang dimaksud di sini adalah kawasan di utara stasiun yang hari ini lebih dikenal sebagai bagian dari lanskap urban Tangerang Selatan.

Menariknya, jika membuka peta awal abad ke-20 yang diterbitkan pemerintah kolonial Hindia Belanda, wajah Serpong ternyata tidak berubah sedrastis yang dibayangkan. Struktur dasarnya masih terbaca. Stasiun kereta tetap berada di lokasi yang sama seperti saat pertama kali dibangun. Jejak jalan utama juga relatif bertahan. Begitu pula alur Sungai Cisadane di sisi barat yang masih mempertahankan bentuk besarnya hingga hari ini.

Pada peta lama itu, pasar berada di bagian utara kawasan Serpong. Jika dicocokkan dengan kondisi sekarang, besar kemungkinan lokasinya berada di sekitar Tugu Perjuangan Rakyat Serpong atau kawasan seberang Kantor Samsat Cilenggang. Hari ini tidak banyak penanda yang menunjukkan bahwa ruang itu pernah menjadi pusat pertemuan orang, barang, dan kabar.

Padahal dalam banyak kota kecil di Hindia Belanda, pasar bukan sekadar tempat transaksi ekonomi. Pasar adalah titik awal pembentukan ruang sosial. Dari pasar biasanya tumbuh jalan, permukiman, hingga jaringan kekuasaan.

Jika hari ini jalan utama bergerak mengikuti tepian kawasan pemakaman tua pribumi di perbukitan—yang pada peta lama ditandai simbol bulan sabit maka dahulu jalan tersebut bercabang. Satu cabang bergerak ke barat menuju tepian Cisadane, yang kemungkinan besar menjadi titik penyeberangan sungai sebelum pembangunan infrastruktur modern. Cabang lainnya bergerak ke utara menuju sebuah landhuis.

Landhuis atau rumah besar dalam konteks Hindia Belanda bukan sekadar hunian. Ia sering menjadi pusat administrasi perkebunan, tempat tinggal pengelola tanah partikelir, sekaligus ruang singgah pejabat kolonial ketika melakukan perjalanan. Dalam struktur ruang kolonial, keberadaan landhuis hampir selalu menandakan adanya pusat produksi ekonomi di sekitarnya.

Peta Belanda Kecamatan Serpong

Keberadaan bangunan itu diduga berkaitan dengan bangunan bergaya Indies di Cilenggang yang kini terbengkalai setelah kawasan perkebunan berubah menjadi bagian dari ekspansi kota baru BSD.

Jika dugaan ini benar, maka Serpong masa lalu tidak tumbuh semata karena kereta api atau pasar, melainkan sebagai ruang pertemuan antara ekonomi agraria, jaringan transportasi, dan administrasi kolonial.

Pada peta tersebut juga tampak penandaan sebaran pemakaman Tionghoa di sisi timur Cisadane. Jika ditarik ke kondisi geografis sekarang, lokasinya kemungkinan berada di lahan yang kini tengah berkembang menjadi kawasan perumahan di arah barat jalan saat ini atau selatan Tugu Perjuangan Rakyat Serpong.

Keberadaan makam Tionghoa ini penting karena menunjukkan bahwa Serpong sejak awal bukan ruang yang homogen. Ada lapisan masyarakat yang hidup berdampingan: penduduk pribumi, komunitas Tionghoa, pekerja perkebunan, pedagang pasar, hingga administrator kolonial.

Yang menarik, dalam sejarah kota-kota kecil di Jawa, pemakaman sering menjadi petunjuk paling jujur untuk membaca masa lalu. Rumah bisa dibongkar. Jalan bisa digeser. Pasar bisa dipindahkan. Tetapi makam sering kali bertahan lebih lama dan menyimpan informasi tentang siapa yang pernah hidup di sana.

Karena itu, ketika hari ini kawasan Utara Serpong berubah menjadi koridor perumahan dan kawasan komersial, sesungguhnya yang sedang hilang bukan sekadar lanskap lama, melainkan kemampuan membaca ruang sebagai arsip.

Peta kolonial memang dibuat untuk kepentingan administrasi dan kontrol. Tetapi ironisnya, justru dari peta-peta semacam itulah kita bisa melihat bahwa Serpong dahulu jauh lebih kompleks daripada sekadar kota satelit yang kita kenal sekarang.

Di bawah lapisan aspal, perumahan, dan jalan yang semakin lebar, mungkin masih tersimpan jejak pasar yang telah lenyap, jalur menuju penyeberangan Cisadane, halaman landhuis yang sunyi, serta makam-makam yang diam-diam menjadi saksi perubahan Serpong selama lebih dari satu abad.

 

Penulis:

Muhamad Iqbal merupakan seorang jurnalis dan pegiat literasi sejarah kelahiran Bogor yang menyelesaikan pendidikan Sarjana Sastra Indonesia di Universitas Pamulang. Iqbal dapat dihubungi melalui Instagram dan Threads @ikbal.muhmd maupun X @juru_baca.

TAGGED:berita tangselKecamatan SerpongSejarah SerpongTangsel pediaTata Ruang Kota Tangsel
Share This Article
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link

Terkini

Kepala Bagian Umum Setda Kota Tangsel Herman Susilo
Mekanisme Sewa Mobil Dinas Pemkot Tangsel Hemat hingga Rp8 Miliar
Pemerintahan
Diskominfo Kota Tangsel di Masjid Villa Pamulang
Pemkot Tangsel Fasilitasi Internet Gratis di 379 Masjid, Perkuat Peran Masjid Pusat Edukasi
Pemerintahan
Dinkes Kota Tangsel
Dinkes Kota Tangsel Optimalkan 6 Pos Lansia untuk Tingkatkan Kualitas dan Derajat Kesehatan Lansia
Pemerintahan
Disperkimta Kota Tangsel
Update Program Bedah Rumah Pemkot Tangsel Tahap 1, 186 Unit Rumah Rampung Diperbaiki
Pemerintahan
- Advertisement -
Ad imageAd image

You Might Also Like

Pondok Aren

Melihat Pondok Aren dari Peta Era Hindia Belanda

TangselPedia
Dok. Peta Belanda Jalan Raya Serpong Parung. Saksi Sejarah Tanam Paksa Era Kolonial hingga urbanisasi kawasan BSD.

Terancam Ditutup BRIN, Jalan Raya Serpong-Parung Saksi Bisu Sejarah Masa Tanam Paksa Era Kolonial

TangselPedia
Menjelang Iduladha 1447 H, Pemkot Tangsel Antisipasi Penyakit Hewan Kurban

Menjelang Iduladha 1447 H, Pemkot Tangsel Antisipasi Penyakit Hewan Kurban

News
Jejak Korupsi Pejabat di Ciputat pada Era Hindia Belanda

Jejak Korupsi Pejabat di Ciputat pada Era Hindia Belanda

TangselPedia
tangselinfo.com

© 2025 Info Tangsel. All rights reserved. Designed by ❤ dezainin.com

Kanal

  • News
  • Pemerintahan
  • Pendidikan
  • Info Tangsel
  • TangselPedia

Redaksi

  • Tentang Kami
  • Iklan
  • Kebijakan Privasi
  • Syarat & Ketentuan

Must Read

Dikbud Kota Tangsel Bakal Perbaiki 5 Bangunan SDN dan SMPN
Gedung SDN Muncul 01 Tangsel Kini Lebih Modern

Informasi yang disajikan berpedoman pada Kode Etik Jurnalistik, mencakup informasi Peristiwa, Info Tangsel, Pemerintahan, dan Pendidikan.

Selamat Datang!

Masuk ke akunmu sekarang