TANGSELINFO.COM – Jika sebelumnya kita membahas wilayah selatan Serpong, tepatnya Jalan Serpong–Parung sebagai jalur tua yang berkaitan dengan masa tanam paksa hingga berkembang menjadi jalur penghubung menuju Stasiun Serpong pada akhir abad ke-19 kali ini perhatian diarahkan ke sisi utara Serpong. Serpong yang dimaksud di sini adalah kawasan di utara stasiun yang hari ini lebih dikenal sebagai bagian dari lanskap urban Tangerang Selatan.
Menariknya, jika membuka peta awal abad ke-20 yang diterbitkan pemerintah kolonial Hindia Belanda, wajah Serpong ternyata tidak berubah sedrastis yang dibayangkan. Struktur dasarnya masih terbaca. Stasiun kereta tetap berada di lokasi yang sama seperti saat pertama kali dibangun. Jejak jalan utama juga relatif bertahan. Begitu pula alur Sungai Cisadane di sisi barat yang masih mempertahankan bentuk besarnya hingga hari ini.
Pada peta lama itu, pasar berada di bagian utara kawasan Serpong. Jika dicocokkan dengan kondisi sekarang, besar kemungkinan lokasinya berada di sekitar Tugu Perjuangan Rakyat Serpong atau kawasan seberang Kantor Samsat Cilenggang. Hari ini tidak banyak penanda yang menunjukkan bahwa ruang itu pernah menjadi pusat pertemuan orang, barang, dan kabar.
Padahal dalam banyak kota kecil di Hindia Belanda, pasar bukan sekadar tempat transaksi ekonomi. Pasar adalah titik awal pembentukan ruang sosial. Dari pasar biasanya tumbuh jalan, permukiman, hingga jaringan kekuasaan.
Jika hari ini jalan utama bergerak mengikuti tepian kawasan pemakaman tua pribumi di perbukitan—yang pada peta lama ditandai simbol bulan sabit maka dahulu jalan tersebut bercabang. Satu cabang bergerak ke barat menuju tepian Cisadane, yang kemungkinan besar menjadi titik penyeberangan sungai sebelum pembangunan infrastruktur modern. Cabang lainnya bergerak ke utara menuju sebuah landhuis.
Landhuis atau rumah besar dalam konteks Hindia Belanda bukan sekadar hunian. Ia sering menjadi pusat administrasi perkebunan, tempat tinggal pengelola tanah partikelir, sekaligus ruang singgah pejabat kolonial ketika melakukan perjalanan. Dalam struktur ruang kolonial, keberadaan landhuis hampir selalu menandakan adanya pusat produksi ekonomi di sekitarnya.

Keberadaan bangunan itu diduga berkaitan dengan bangunan bergaya Indies di Cilenggang yang kini terbengkalai setelah kawasan perkebunan berubah menjadi bagian dari ekspansi kota baru BSD.
Jika dugaan ini benar, maka Serpong masa lalu tidak tumbuh semata karena kereta api atau pasar, melainkan sebagai ruang pertemuan antara ekonomi agraria, jaringan transportasi, dan administrasi kolonial.
Pada peta tersebut juga tampak penandaan sebaran pemakaman Tionghoa di sisi timur Cisadane. Jika ditarik ke kondisi geografis sekarang, lokasinya kemungkinan berada di lahan yang kini tengah berkembang menjadi kawasan perumahan di arah barat jalan saat ini atau selatan Tugu Perjuangan Rakyat Serpong.
Keberadaan makam Tionghoa ini penting karena menunjukkan bahwa Serpong sejak awal bukan ruang yang homogen. Ada lapisan masyarakat yang hidup berdampingan: penduduk pribumi, komunitas Tionghoa, pekerja perkebunan, pedagang pasar, hingga administrator kolonial.
Yang menarik, dalam sejarah kota-kota kecil di Jawa, pemakaman sering menjadi petunjuk paling jujur untuk membaca masa lalu. Rumah bisa dibongkar. Jalan bisa digeser. Pasar bisa dipindahkan. Tetapi makam sering kali bertahan lebih lama dan menyimpan informasi tentang siapa yang pernah hidup di sana.
Karena itu, ketika hari ini kawasan Utara Serpong berubah menjadi koridor perumahan dan kawasan komersial, sesungguhnya yang sedang hilang bukan sekadar lanskap lama, melainkan kemampuan membaca ruang sebagai arsip.
Peta kolonial memang dibuat untuk kepentingan administrasi dan kontrol. Tetapi ironisnya, justru dari peta-peta semacam itulah kita bisa melihat bahwa Serpong dahulu jauh lebih kompleks daripada sekadar kota satelit yang kita kenal sekarang.
Di bawah lapisan aspal, perumahan, dan jalan yang semakin lebar, mungkin masih tersimpan jejak pasar yang telah lenyap, jalur menuju penyeberangan Cisadane, halaman landhuis yang sunyi, serta makam-makam yang diam-diam menjadi saksi perubahan Serpong selama lebih dari satu abad.
Penulis:
Muhamad Iqbal merupakan seorang jurnalis dan pegiat literasi sejarah kelahiran Bogor yang menyelesaikan pendidikan Sarjana Sastra Indonesia di Universitas Pamulang. Iqbal dapat dihubungi melalui Instagram dan Threads @ikbal.muhmd maupun X @juru_baca.
